Di resepsi pernikahan rekan saya minggu lalu, tepatnya di hari Sabtu 7 Juni 2008, saya menyaksikan ada beberapa tamu yang lalu lalang , kebetulan saya berada dekat diantara among tamu, baik yang melalui barisan among tamu maupun yang melintas diantara Pagar bagus dan pagar Ayu. Rangkaian tamu itu ada yang berbeda mulai dari tingkat usianya, tingkat sosialnya, pekerjaan, bahkan mugkin berbeda pula gaya hidupnya, ini bisa tercermin dari pakaian atau gaun yang dipakainya saat diresepsi, atau bisa juga saat sedang menyantap makanan atau saat mereka bersalaman dengan mempelai kedua pengantin. Namun bukan hal itu yang membuat saya menjadi sangat perhatian terhadap seluruh tamu undangan yang hadir, justru yang menarik dan yang menjadi penting buat saya adalah saat saya mendengarkan sepatah dua patah kata dari seorang tamu bahkan beberapa tamu hampir senada mengucapkannya bahwa resepsi ini sepertinya sudah dipersiapakan secara matang, karena sepanjang tamu yang hadir hingga batas waktu tempat resepsi yang booking ( 1,5 Jam ) hampir berakhir , tak ada satupun dari para tamu yang mengeluh tentang makanannya yang kehabisan atau menu makanan yang kurang enak, padahal tamu yang hadir pada saat itu hampir seluruhnya memenuhi area tempat resepsi yang mungkin tidak terlalu mewah tapi cukup nyaman dan representatf untuk kesederhanaan sebuah pesta di Bekasi, berbagai menu yang disajikanpun merupakan menu yang sangat populer , sebut saja mulai dari kambing guling, ayam kecap panggang, soto ayam, nasi goreng, aneka snack maupun aneka softdrink, aneka buah dingin sampai Ice cream favorit anak-anak atau rangkaian upacara adat yang dimulai dari Temu panggih, penyerahan pisang sanggan, lempar sirih, pecah telur, sinduran, kacar-kucur, kembulan serta sungkeman sambil diiringi tarian adat ( Cucuk lampah ).
Sementara pada saat yang sama, kami tim panitia resepsi pernikahan merasakan begitu sangat khawatir,dag-dig-dug, hampir setiap detik kami menghitung sajian menu yang ada di Buffe utama maupun yang tidak terlihat di Non Buffe utama, bahkan secara detail kamipun harus sering berbicara kepada pihak catering, baik soal supply makanan maupun soal bagaimana agar suasana di area resepsi khususnya area tempat makanan harus terlihat rapi, barang bekas pakai agar tidak terlihat berserakan, ini semata-mata karena tanggung jawab kami sebagai Tim panitia resepsi , yang kebetulan si empunya Hajat adalah Rekan kami di Komunitas Sangray, tentunya kami menjaga agar si empunya hajat nantinya tidak merasa malu dan tidak merasa terhina dihadapan Relasi/ kenalan dan Saudara-saudaranya. Lihat saja kesibukan Tim Panitia kami sepanjang resepsi dimulai, sebut saja Rekan kami Pak Hanung sebagai ketua panitia yang tidak saja harus berkoordinasi dengan Sie Acara, Sie Konsumsi, sie Among Tamu, Sie pengawas kado & souvenir, Sie perlengkapan, bahkan Beliau sendiripun harus sudah siap dengan jobnya sebagai wakil seserahan saat ijab Kabul. Belum lagi rekan lain, Ibu Yuli dan Ibu Tri yang selalu siap dengan Rekan dapur untuk lancarnya lalu lintas makanan dan penyajiannya.
Inilah sebuah “test case” , kalau boleh saya sebut, bukan saja kepada sesama rekan panitia tapi juga kepada pihak Catering, karena sesungguhnya disinilah kunci suksesnya, sejauhmana mereka mempersiapkan ini semua, bisa kita lihat dari kerapihan disegi layanan, kepeduliannya menjaga kepercayaan orang lain, hingga bagaimana mengawal tamu undangan yang termasuk VIP, tamu istimewa agar semua pihak termasuk panitia dan juga para tamu undangan punya sebuah kesan dan masing-masing punya momentum suasana yang terasa nyaman saat meninggalkan ruang resepsi.
Bagi si empunya Hajat, dan pertama kalinya menikahkan putranya, ini merupakan suatu pelajaran yang berharga, untuk menjaga silhaturahmi dan menyongsong sebuah acara yang mungkin ada yang masih akan dijalaninnya kelak. Sebagaimana isi sambutan keluarga saat resepsi berlangsung, saat Pak Triyogo menyampaikan pesan-pesannya buat kedua mempelai, jadikanlah pernikahan ini sebagai sarana untuk menjaga Ibadah kepada Allah Swt, menjaga dan menyatukan dua keluarga besar yang punya adat dan kebiasaan berbeda. Kelak menjadi keluarga yang Sakinah, mawadah , warohmah, sebagaimana pula disampaikan Pak Penghulu, di Mesjid Al mu’minun, Depsos Bekasi, dengan menjelaskan sakinah adalah tenang, agar menjadi tenang bila sudah menikah, Mawadah merupakan Cinta yang didasari dari segi lahiriah, ini agar punya ketertarikan satu dengan lainnya, serta Warohmah agar kalian senantiasa tetap cinta walau usia menjelang tua.
Dan akhirnya datangnya juga, bunga rangkaian segar dan teriring doa buat kedua mempelai Ananda Kristian Trisnawijaya dan Anissa Rahman, menjadi pasangan yang berbahagia, dilimpahkan rezekinya, ditentramkan hatinya. Seluruh keluarga besar Telekomunikasi Bekasi, Yayasan Dana Pensiun Mandiri2, Bank Mandiri, Asuransi Raksa Pratikara, warga di lingkungan sepanjang Jl Irian jaya hingga ujung Sangihe, Keluarga besar rombongan dari Godean,Yogyakarta turut menyampaikan rasa berbahagia “ Semoga menjadi pasangan yang Sakinah, Mawadah, Warohmah “. Buat Rekan kami, Bapak Sutrisno dan Ibu Kismi, serta keluarga Bpk Takdir Alisyahbana dan Ibu, semoga senantiasa dilimpahkan Rahmat dan Hidayat dari Allah Swt, dan menjadi orang tua teladan bagi putra-putrinya. Amin. ( *Krj*)
Sementara pada saat yang sama, kami tim panitia resepsi pernikahan merasakan begitu sangat khawatir,dag-dig-dug, hampir setiap detik kami menghitung sajian menu yang ada di Buffe utama maupun yang tidak terlihat di Non Buffe utama, bahkan secara detail kamipun harus sering berbicara kepada pihak catering, baik soal supply makanan maupun soal bagaimana agar suasana di area resepsi khususnya area tempat makanan harus terlihat rapi, barang bekas pakai agar tidak terlihat berserakan, ini semata-mata karena tanggung jawab kami sebagai Tim panitia resepsi , yang kebetulan si empunya Hajat adalah Rekan kami di Komunitas Sangray, tentunya kami menjaga agar si empunya hajat nantinya tidak merasa malu dan tidak merasa terhina dihadapan Relasi/ kenalan dan Saudara-saudaranya. Lihat saja kesibukan Tim Panitia kami sepanjang resepsi dimulai, sebut saja Rekan kami Pak Hanung sebagai ketua panitia yang tidak saja harus berkoordinasi dengan Sie Acara, Sie Konsumsi, sie Among Tamu, Sie pengawas kado & souvenir, Sie perlengkapan, bahkan Beliau sendiripun harus sudah siap dengan jobnya sebagai wakil seserahan saat ijab Kabul. Belum lagi rekan lain, Ibu Yuli dan Ibu Tri yang selalu siap dengan Rekan dapur untuk lancarnya lalu lintas makanan dan penyajiannya.
Inilah sebuah “test case” , kalau boleh saya sebut, bukan saja kepada sesama rekan panitia tapi juga kepada pihak Catering, karena sesungguhnya disinilah kunci suksesnya, sejauhmana mereka mempersiapkan ini semua, bisa kita lihat dari kerapihan disegi layanan, kepeduliannya menjaga kepercayaan orang lain, hingga bagaimana mengawal tamu undangan yang termasuk VIP, tamu istimewa agar semua pihak termasuk panitia dan juga para tamu undangan punya sebuah kesan dan masing-masing punya momentum suasana yang terasa nyaman saat meninggalkan ruang resepsi.
Bagi si empunya Hajat, dan pertama kalinya menikahkan putranya, ini merupakan suatu pelajaran yang berharga, untuk menjaga silhaturahmi dan menyongsong sebuah acara yang mungkin ada yang masih akan dijalaninnya kelak. Sebagaimana isi sambutan keluarga saat resepsi berlangsung, saat Pak Triyogo menyampaikan pesan-pesannya buat kedua mempelai, jadikanlah pernikahan ini sebagai sarana untuk menjaga Ibadah kepada Allah Swt, menjaga dan menyatukan dua keluarga besar yang punya adat dan kebiasaan berbeda. Kelak menjadi keluarga yang Sakinah, mawadah , warohmah, sebagaimana pula disampaikan Pak Penghulu, di Mesjid Al mu’minun, Depsos Bekasi, dengan menjelaskan sakinah adalah tenang, agar menjadi tenang bila sudah menikah, Mawadah merupakan Cinta yang didasari dari segi lahiriah, ini agar punya ketertarikan satu dengan lainnya, serta Warohmah agar kalian senantiasa tetap cinta walau usia menjelang tua.
Dan akhirnya datangnya juga, bunga rangkaian segar dan teriring doa buat kedua mempelai Ananda Kristian Trisnawijaya dan Anissa Rahman, menjadi pasangan yang berbahagia, dilimpahkan rezekinya, ditentramkan hatinya. Seluruh keluarga besar Telekomunikasi Bekasi, Yayasan Dana Pensiun Mandiri2, Bank Mandiri, Asuransi Raksa Pratikara, warga di lingkungan sepanjang Jl Irian jaya hingga ujung Sangihe, Keluarga besar rombongan dari Godean,Yogyakarta turut menyampaikan rasa berbahagia “ Semoga menjadi pasangan yang Sakinah, Mawadah, Warohmah “. Buat Rekan kami, Bapak Sutrisno dan Ibu Kismi, serta keluarga Bpk Takdir Alisyahbana dan Ibu, semoga senantiasa dilimpahkan Rahmat dan Hidayat dari Allah Swt, dan menjadi orang tua teladan bagi putra-putrinya. Amin. ( *Krj*)


