Selasa, 03 Juni 2008

SUPER SOULMATE ( seri Joged koran )

Ngomongin soal acara, apalagi acara yang bernuansa seni, budaya dan sosial khususnya yang pernah digagas di Wilayah Sangray, rasanya tak “Sreg” bila tak menampilkan dua sosok wanita yang sepanjang keberadaannya di Sangray ini, sudah menjadi bagian yang paling dalam dari kehidupan kami . Tetangga saya yang dua ini senang sekali bercengkrama dengan adik-adik dan remaja, sentuhan keahliannya dalam memotivasi adik-adik dan remaja seringkali sangat membekas di hati mereka, beberapa pertunjukan seni dan permainan yang dgelar dipanggung RT maupun di Pagelaran RW sering membuat kerinduan sendiri bagi warga diluar wilayah Sangray. Tidak percaya ! silahkan tanya kepada adik-adik di wilayah kami, yang sejak pementasan pertamanya, mereka atau adik-adik ini masih berumur sangat muda sekali, masih TK, bahkan masih ada yang belum bersekolah, tapi keberadaanya dipanggung begitu sangat percaya diri, sangat PD, kelincahan dan kelucuannya dipanggung merupakan wujud dari tangan dingin dua wanita tersebut. Sebuah penanaman motivasi dan cara pemahaman seni yang dimasa datang akan menjadi asset warga Sangray , hingga pada usia adik-adik yang saat ini sudah remaja terasa interaksinya dalam membentuk sebuah tim .

Mengenal kedua sosok wanita ini hampir enam tahun silam, sebagaimana saya juga mengenal kreasi-kreasi mereka baik seni tari , Drama ataupun kreasi lainnya yang dipertunjukan di Rt, dilingkungan Rw maupun ditingkat kelurahan, saya melihat kedua sosok wanita ini sebagai motivator seni di komunitas Sangray, sebagai figure yang memiliki daya seni dan bisa dijadikan semangat membangun potensi warga menjadi sesuatu yang bernilai. Sebagian Warga baik Ibu-ibu maupun Bapak-bapak memanggilnya dengan sebutan Ibu Vivin, dilingkungan adik-adik dan remaja akrab dipanggil dengan Tante Vivin, kadang yang lain menyapanya dengan Kak Vivin. Coba tengok pertunjukannya yang sangat fenomenal di pagelaran RW maupun ditingkat kelurahan, sebuah pertunjukan drama yang diberi Judul “JIN PLN “ ataupun drama “Cindrelela”. Sebuah pertunjukan yang sering dikangeni sebagai ciri khas Komunitas Sangray, tak terbatas di lingkungan kami, tapi diluar kami seakan sudah menjadi bagian yang mewarnai kehidupan sebuah pagelaran. Sebagaimana sosok IbuVivin, keterlibatan wanita satu ini, yakni yang sering disapa dengan panggilan Ibu Hesti, yang juga punya andil mengisi serta menambah ciri seni dari komunitas Sangray yang dengan sering kalinya menciptakan kreasi tari baru dengan melibatkan adik-adik yang masih belum bersekolah ( Balita ) hingga seusia anak kelas 2 SD. Ia juga tidak sungkan-sungkan untuk membimbing karakter adik-adik yang belum punya disiplin, Ia pun rela tempat tinggalnya dijadikan tempat latihan. Makanya dari begitu banyak masalah di ke-RT-an, entah itu soal ketidak rukunan diantara warga atau masalah kecekcokan bertetangga, rasa-rasanya kita perlu bersyukur atas kehadiran dua sosok wanita ini yang bisa menjadi inspirasi bagi kehidupan pribadi , sosial maupun yang lebih luas lagi dari itu, menjadi penyatu pada sebuah kepedulian dan kerukunan untuk bangkit menggali potensi warga Sangray sebagai Rt yang is the Best.

Baru-baru ini pula, sebuah acara yang digagas oleh Ibu Vivin,nun jauh di Sukabumi, acara yang tidak hanya dapat melupakan kepentingan pribadi, tapi malah memunculkan nuansa sebuah kebersamaan sekaligus kegembiraan bagi semua warga Sangray. Sebuah acara yang awalnya hanya melibatkan sebuah Koran bekas seukuran 60 x 60 cm, namun daya magisnya bisa melahirkan sebuah pentas sekelas “kucing garong”. Permainan yang pesertanya diminta untuk melipat kertas Koran tsb menjadi dua bagian, dengan diiringi alunan musik, boleh disco, boleh Pop, dangdut ataupun reggae, dimana setiap kali musik dimatikan, mulailah peserta melipatkan Koran hingga sampai kepada lipatan yang paling kecil, dimana posisi peserta harus tetap berada diatas Koran tsb sembari berjoget. Mudah saat Koran masih berukuran besar, susah jika Koran sudah semakin mengecil. Yang menjadi istimewa adalah peserta yang semuanya warga Sangray ini, punya postur tubuh yang sudah gemuk, lucunya joget ini harus berpasangan dengan si soulmatenya, bisa dibayangkan kalau keduannya berpostur gemuk . karena ini untuk kegembiraan dan kerukunan warga, tak soal gemuk dengan gemuk, tak peduli Gemuk dengan kurus, masa bodo walau kurus dengan kurus, sepanjang mereka punya motivasi untuk kegembiraan, maka yang terjadi adalah sebuah aksi panggung dengan semangat kelucuan yang bisa membikin Ger-ger-an dan ha ha hi hi . Coba tengok si Ayah/AA yang dapat keberuntungan bisa digendong dipundak si Soulmatenya, lihat juga Papanya Bayu dan soulmatenya yang belum joget, sudah terkontaminasi dengan gaya peserta lainnya, tengok pula si rohis yang coba-coba bikin kejutan, Pak Sumedang yang meni raos, Mantan Rt dan ketua komunitas Sangray dengan ciri khas gayanya masing-masing. Yang menarik adalah pasangan juara yang disandang oleh Uda Taufik plus soulmatenya, gaya “kucing garong” yang mereka hadirkan, telah membawa pasangan ini memenangi Voucher dan berhak menginap satu malam di Hotel Bidakara beserta keluarga. Selamat!

Kita boleh senang, boleh bergembira, namum seiring waktu, puncak keprihatinan kita adalah kalau sosok seperti Ibu Vivin dan Ibu Hesti, tidak lagi berkreasi dan sudah “mempensiunkan “dirinya bagi kegiatan komunitas Sangray. Yang mungkin terjadi adalah kemunculan dari adik-adik remaja secara alami, bisa muncul dari diri Ririn, Wilda, Eci, Amik, Anis, Gesy, nanda, fira, athaya, kanya, Dini, Sinta , atau mungkin dari kumpulan anak macho , sebut saja Ajay, kiko, Danur, Angga, Gilar, Odi, Reza, Eza , Willy, Fathan, Faras, Bayu, Dimas , atau Tidak ada satu sosokpun yang menggantikannya. Ayo Rekan Remaja!! tunjukan potensi dan bakatmu, jadikan wilayah Sangray ini, sebagai pelampiasan kreasi mu, jangan segan atau malu untuk bertanya pada yang senior, Salurkan Ide-ide kalian pada sebuah wadah yang tepat, Cari seseorang atau sosok di komunitas Sangray ini yang bisa menjembatani keinginanmu, Bangkitlah!!, Indonesia pasti Bisa, targetkan diri kalian sebagai yang terbaik, We Are the best from Sangray. Kami dukung.**

Suatu siang di kebun milik Pak Nunung

Rasanya sih tak sulit kalau kalian mau berkunjung ke kebunnya, tempatnya sendiri letaknya tidak jauh dari Wilayah Sangray, hanya mungkin dipisahkan oleh wilayah RWnya saja. Untuk menemukan lokasinya bisa dijalani lewat kampung sebelah, atau bisa disisir lewat jalan Raya Irian jaya, hingga sampai diujung Jl.Irian Jaya raya, kalian akan sampai pada pangkalan Becak satu-satunya yang ada di komunitas Sangray, kalau anda malu bertanya, silahkan anda meneruskannya ke Jl. Sangihe Raya, jalan terusan sesudah Jl. Irian jaya ini, akan ada pertigaan jalan yang menuju ke Kampung sebelah, orang biasa menyebutnya dengan kampung bang Somat, Semua warga Sangray maupun tetangga komunitas Sangray pasti sudah paham kalau menyebut kampung bang Somat , jalan yang kalian lalui tadi lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Gang Somat. Kalau anda punya waktu lebih lama, dan mau memperhatikan Gang tersebut, kalian tentu akan merasa heran, dengan mobil yang hilir mudik di sekitar gang tersebut, dulu gang tersebut selain di lalui oleh Truk, sepeda, motor , dan sesekali hewan peliharaan juga terlihat disana, seperti Kambing, Sapi dsbnya, dan yang mungkin menjadi perhatian lain adalah mobil maupun motor aparat keamanan dari satuan Patroli, yang sering kali menggunakan Gang tersebut untuk jalur kegiatannya, posisi jalan tersebut sebenarnya adalah jalan buntu, sehingga jika mobil maupun Truk yang menuju kesana, pasti akan kembali lagi kejalan tersebut untuk kembali ke jalur jalan Utama.

Tak jauh dari lokasi kebun tersebut, memang terdapat lapangan sepakbola, tepatnya dibelakang kebun itu, ukurannya sama dengan standar lapangan sepak bola pada umumnya. Bersebelahan dengan kebun tersebut terdapat ada Jalan segitiga yang banyak ditanami oleh pohon-pohan besar, seperti pohon mangga, pohon Rambutan, jengkol, kelapa, Duren, melinjo dsbnya, sesekali penghuni disekitar kebun tersebut bertemu dan dengan dialek khas betawinya, banyak menyapa orang-orang yang melalui jalan itu, kadang terdengar : “La! loe pade mo kemane iya “ ,atau “ Biasa mpok cari sayur asem “ atau “Tumben , ude lame enggak pernah ketemu “ dan jangan juga aneh jika kalian mendengar bahasa jawa yang sesekali ikut nimbrung di silahturahmi tersebut, karena memang disekitar tersebut banyak orang pendatang yang ngontrak rumah disekitar tsb, yang datang dari kampungnya tuk cari rezeki, abang becak, tukang batu, Ojek dan penjual jajanan pasar atau penjual sayur mayur. Ada juga yang jadi penggarap lahan disekitar area lapangan sepakbola, kerena memang tanah disekitar tsb masih terlihat luas dan masih digarap untuk tanaman jenis bawang, sayur mayur, singkong dan lainnya.

Senyum ramah si penghuni Kebun, seringkali memberi kehangatan tersendiri, mengobrol disela-sela pekerjaannya menjadi bagian dari keramahan dari Mas Agung, lelaki yang bisa dan biasa ditemui disekitar kebun, Dia lebih banyak mengurus kebersihan kebun hingga kepada tanaman yang banyak tumbuh disekitar kebun, ada tanaman hias , tanaman obat, tanaman berbuah maupun mengurus hewan piaraan seperti burung dara, ayam hingga ikan dikolam. Sambil sesekali duduk di Saung yang ada disekitar kebun, yang memang dibangun untuk melepas lelah, mengaso dan kadang mencari ide lain bagi sipemilik kebun. Rekan yang sering berkunjung menemaninya seperti Abang kembang, maupun pemilik Nursery sederhana Mas Slamet. Sesekali kalau musim rambutan tiba, biasanya rame dengan acara memetik buah rambutan, ada yang pake galah, ada yang memang berani naik pohon sendiri, atau ada juga yang asyiknya Cuma makan doang, tapi itu semua enggak menggangu buat Mas Agung, bahkan si empunya Kebun, yang biasa disapa Pak Nunung dan Ibu Nunung sering mengundang warga dihari sabtu dan minggu, maklum keduanya orang kantor yang senin hingga jumat buat kepentingan kantor. Diawal berdirinya kebun ini, beruntung bahwa kebun tersebut menjadi salah satu proyek percontohan yang bernuansa asri, bermanfaat serta pernah dikunjungi oleh Pihak Kelurahan maupun Pemda setempat guna sosialisasi kemasyarakatan, maklum wilayah Sangray adalah satu-satunya wilayah Rt yang berfasilitas area kebun diantara begitu banyak Rt yang berada satu kelurahan dengan komunitas Sangray, sebuah manfaat bagi warga Sangray, karena kebetulan si pemilik kebun adalah mantan ketua Rt. Diwilayah Sangray. Kedepan! mungkin pengembangan area kebon bisa saja digunakan untuk kegiatan yang edukatif lingkungan atau hiburan bagi adik-adik diSangray. Karena pengenalan lingkungan dan berbaurnya adik-adik dengan alam, tanaman, hewan dsbnya secara langsung dapat memberikan wawasan yang berbeda bagi pertumbuhan psikogis. Ini semua tentunya tergantung kepada si empunya Kebun, kepedulian dan keprihatinannya terhadap dunia anak-anak dan kemasyarakatan, dimana anak-anak sekarang bahkan orang tuapun kadang masih banyak yang bersifat individualis. Maklum pengaruh lingkungan diluar sangat terasa, baik dari tontonan TV maupun masmedia lainnya. Belajar mengenal tumbuhan, bercocok tanam, memberi makan ternak, adalah bagian dari kegiatan yang mendidik.

Selain kebun tersebut sangat asri dan adem, kian lengkap pula dengan apa yang dilakukan oleh Ibu-ibu Sangray ini ditiap hari sabtu dan minggu, sesekali mereka kumpul di tengah Saung, sekedar bercengkrama, bahkan ide untuk makan bersama dengan masing2 bawaannya sering kali menjadi kegiatan yang rutin, tukar menukar hasil masakan, hari ini bawa lauk, besok bawa asinan, lusa bawa nasi , sudah secara otomatis menjadi sebuah kerukunan yang besar manfaatnya. Terkadang salah satu warga yang jago masak bisa membagi ilmu dan keahliannya pada kegiatan tersebut. Memasuki kebun ini 100% tidak dipungut biaya alias gratis, si Empunya kebun sangat terbuka kepada siapapun. Yang pasti “Cemilan” dan menu makan siang biasanya mereka sudah ada koordinasi, tidak pernah salah satu yang dibawa rekannya sama, sapaan”Ipeh loe bawa ape hari ini”, yang lain nyahut dengan “bawa asinan”, “ bawa Sambel”, “bawa Ayam goreng “, perangkat-perangkat canggihpun seperti Hp mereka punya, dari CDMA sampe GSM, sekedar memperlancar komunikasi. Inilah sebuah suasana yang menjanjikan sebuah kesadaran bahwa sepanjang kita berbaur dan bersilahturahmi, dengan niat baik, maka kita adalah bagian dari persaudaraan itu sendiri, “menjadi satu, karena kita semua Saudara.”, sambil terdengar sayup-sayup suara kegembiraan dari Saung nun disana, entah itu suara Ibu Endang, ibu ance, Ibu Ipeh, Ibu Pendi, Ibu Nunung, ibu Ari, Ibu Darto, serta Ibu Hanung yang punya Dialek Surobaoyoan, terlarut dalam suasana canda dan tawa yang lepas. Seraya kuayun langkah kakiku untuk ambil air wudhu, sembari mengenang “Suatu siang dikebun milik Pak Nunung”.