Kamis, 11 Juni 2009
LA Light "Menggempur" pasar Grand Wisata
Selasa, 02 Juni 2009
TOLL CAWANG 830
Dunia memang sudah tua, hawa panas tidak hanya lewat pemanasan global, lewat materi, tapi juga lewat hati, lewat emosi, lewat kebutuhan yang tertahan, ini benar-benar nyata, Saat aku harus kekantor dan harus sampai di kantor pukul 8 Pagi, aku siasati dengan pergi lebih awal, Bis Mayasari Bakti P-52 jurusan Bekasi tanah abang , biasa menemani aku ke Kantor, agak telat memang hari itu, sekitar jam 6:30 bis yang biasa aku tunggu, ternyata tak kunjung tiba, padahal penumpang lain yang sama-sama denganku sudah menggoyang-goyangkan kepalanya, melirik kearah datangnya Bis, mereka paham benar mobil datang dari arah mana , selalu datang dari arah keluar tol bekasi timur, dari Arah Poll, menuju terminal, langsung belok didepan Pom bensin Depsos, tak berapa menitpun bangku-bangku penumpang sudah terisi penuh, segera Bis itu menyisir melalui Jl HM Joyomartono menuju pintu masuk Tol Bekasi Timur Jatibening hingga Toll Dalam Kota Cawang. Perjalanan memang agak lancar pagi itu, hingga lewat tol jatibening, rasannya perjalanan serasa tidak dihari kerja, tiba-tiba rasa kantukku muncul sejalan dengan lalu lintas yang macet di sekitar Pondok gede, kumanjai rasa kantuk itu dengan menyenderkan kepalaku kebantalan bangku sejajar kepalaku, nikmat dan ini anugerah dari Allah swt, hingga aku lupa berapa lama aku tertidur, tapi rasannya jam masih menunjukan tepat pukul 8:30, dan Bis baru saja lepas dari kemacetan di Pintu Toll Cawang, Sayup-sayup ku dengar, suara sirine khas dari Mobil polisi, suara seorang wanita, Polwan dengan pesan Jangan menggunakan Bahu Jalan, bahu jalan hanya diperuntukan bagi keadaan darurat, beberapa kali pesan itu diulang-ulang hingga akhirnya mampir juga ke Bis yang aku tumpangi, Si sopir sepertinya telah melanggar marka dan bahu jalan Toll, namun siapa menyangka bahwa pesan itu berujung pada debat-debatan antara petugas polisi dengan si sopir Bis, dalam beberapa waktu debat panjang semakin tidak jelas, sang petugas Jalan Toll, sepertinya tak memberikan surat tilang, sayang tak jelas kenapa mereka tidak menemukan titik masalah dan titik temu solusinya, petugas Polwan dan seorang rekan tugas polisi lainnya, bersikeras mobil ini tidak boleh jalan , Penumpang diminta agar menggunakan Bis lainnya, semakin runyamlah situasi, bukan solusi yang muncul malah usilnya polisi dan Si Sopir bis mengunakan situasi ini untuk arogansi maing-masing.
Manusia memang dikendalikan oleh segumpal daging, yang disebut hati, tak peduli dia moderm ataupun kampungan, situasi antara keduanya, petugas polisi dan si Sopir, menjadi ajang tontonan para penumpang diatas Bis, sama dengan kalau kita nonton bola Indonesia, penonton punya ruang gerak yang bebas dan sangat kritis menilai, terkadang bisa diluar kendali, sumpah serapah , makian dan kata-kata kotor juga muncul diatas Bis yang aku tumpangi, aku yakin dan sangat yakin bahwa sekian orang penumpang yang berada di Bis itu, punya kepentingan lain, kepentingan kantor, pribadi atau apapun sebutannya, rasannya keramah tamahan orang Indonesia tak aku jumpai di atas Bis situ, wanita dan pria punya karakter yang tidak beda, tipis rasanya kalau sudah menyentuh Emosi dan nafsu, Aku lihat wanita muda, cantik, berkacamata , tak pelak menjadi perhatian orang-orang disekelilingnya, emosinya sangat luar biasa, antara membela si sopir atau membela kepentingannya karena mungkin Dia sudah terlambat tiba dikantor, perdebatannya dengan Pak Petugas polisi punya karakter sangat berani, dia mulai mengajak semua penumpag untuk turun dari Bis , entah apa jalan pikjirannya, semua orang punya pendapat dan tafsiran yang berbeda,punya kacamata sendiri –sendiri dengan cara pandang yang juga berbeda, lebih jauh lagi, Wanita muda ini menggugat-gugat karakter laki-laki, Kenapa laki-laki diatas Bis ini tak ada yang berani untuk bicara pada Petugas Polisi, kenapa beraninya hanya diatas Bis dan hanya mengebrak-gebrak langit-langit Bis, beberapa lelaki tak akan meladeni situasi seperti ini, terlihat seorang lelaki mundur teratur langsung ke Bangku barisan belakang, Bunga-bunga emosi wanita ini tak lazim dan hanya menunjukan bahwa siapa dia sebenarnya, kata-kata yang dia ucapkan sangat tidak menjaga kesopanan, Polwan Gendut, Polisi maunnya hanya duit saja, hingga kata-kata penghuni kebun Binatang muncul dari mulut manis wanita muda itu,situasi menjadi tak jelas, kulihat wanita mUda disampingnya, seperti tak enak hati, rupannya sesama karakter wanita didalam Bis yang sama, akan bercermin dari situasi itu, dicobanya turun dan bicara dengan polisi yang menilang Sopir Bis tsb, sangat ramah dan punya karakter solusi yang akhirnya Bis yang kami tumpangi boleh berjalan kembali. Seiring Bis itu berlalu dari Polisi yang menilangnya, seiring semakin bisu situasi di atas Bis itu, cape , lelah, letih, hingga sampai jugalah para penumpang di Halte Polda, bergegas turun untk kepentingan masing-masing.
Lama aku termenung, Bis ini telah memberi aku pelajaran tentang karakter manusia, situasi yang sama tidak selalu satu paket dengan solusi yang sama, ada bagian-bagian yang menjadi kerikil disetiap situasi , kerikil rohani, kerikil mental, dan kerikil kelakuan, peristiwa itu telah memperlihatkan bagian kecil dari Indonesia yang aku cintai ini, Ahamdulillah bahwa Petugas Polisi itu, Wanita Muda cantik, Bu Polwan, Sang sopir , Kernet, Para Penumpang Bis adalah benar-benar makhluk ciptaan Allah, Seandainya Mereka adalah Ciptaan Iblis, pastilah sejarah Indonesia tak pernah dicatat dengan tinta emas, biarlah kepada mereka-mereka menorehkan sejarahnya sendiri. Indonesia my Love. In the journey at 20/05/2009 ( #Mstro# )
Minggu, 10 Mei 2009
Sepenggal catatan bersama Bude Tercinta

Ketiga anak-anak kami, baik yang besar maupun yang paling kecil, tentu saja pernah merasakan dan memahami sentuhan kasih Sayang Beliau, mereka juga merasakan saat beliau ajarkan tentang Islam, bahkan hampir semua adik-adik remaja putri maupun putra dilingkungan tempat tinggal kami, tak asing lagi bila dengar suara khasnya, Beliau selain punya kesan keibuan juga punya tanggung jawab pendidikan yang jauh kedepan, ini bisa dibuktikan dengan adanya kesibukan di rumah beliau yang hampir setiap sore hari selalu terdengar adik-adik kecil dari umur pra sekolah hingga tingkat SD, melantunkan huruf –huruf al Quran dari mulai IQRO hingga yang sudah punya kemampuan Khatam. Beliau kesibukan sehari-harinya adalah sebagai pengajar, Beliau mengajar di ditingkat sekolah dasar Negeri di salah satu tempat di Bilangan Mas Masyur, tanah Abang. Jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal Beliau ke tempat beliau mengajar ( Bekasi-Jakarta), tidak mengurangi rasa tanggung jawab Beliau untuk tetap disiplin waktu, kunci keberhasilan dalam pendidikan adalah disiplin waktu dan konsisten untuk berpikir bagaimana ilmu yang diajarkan bisa diterima dan dapat dipahami murid-muridnya. Setelah sholat subuh, beliau mulai bergegas untuk siap mengajar disekolah, kesibukan rutin dari mulai menuggu Bis hingga perjalanan panjang bekasi Jakarta, yang terkenal dengan kemacetannya, Beliau siasati dengan selalu berangkat lebih awal. Rasa letih dan lelah sepulang mengajar, tak menggangu pikirannnya untuk mengajar Iqro dan akidah agama Islam bagi adik-adik di lingkungan komunitas kami. Bahkan tidak hanya adik-adik pra sekolah, namun beliau juga telah mendirikan dan mengembangkan majelis Taklim kaum Ibu dengan nama Nurul kamal, keikhlasan dan keuletan Beliau, sangat dirasakan tidak hanya di komunitas Sangray, tetapi jauh hingga ke Kelompok Majles Taklim tetangga hingga di tingkat RW pun, beliau selalu diminta memimpin pengajian.
Dan memang belum satupun dari murid-muridnya yang mengikuti jejak Beliau, diantara kami pun sampai saat ini belum punya kemampuan yang bisa menyerupai sosok beliau sebagai guru sekaligus Usdtazah, walau diantara kami ada yang sudah terasa kefasihan membaca Al quran, keluwesan dalam membawakan acara yang bersifat keagamaan hingga rasa social yang mulai tumbuh pada diri kami, namun tetap sosok beliau punya pengaruh yang tidak sedikit dalam menghidupkan suasana pengajian yang digelar tiap malam jumat, seakan tanpa kehadiran Beliau , Taklim ini terasa kurang greget, seperti ada sesuatu yang kurang untuk disharing ditiap rumah tangga. Sungguh Beliau sudah membawa kepada kemajuan yang nyata dimajelis kaum Ibu, terutama kemajuan yang sifatnya mencipatakan nuansa agamis, dari kaum Ibu yang buta al Qur’an hingga sekarang fasih dan jadwal pengajianpun sudah menjadi schedule yang tetap dan tidak pernah kosong. Namun tiba-tiba pada suatu Pagi Beliau Jatuh Sakit, tepatnya dua hari setelah memasuki bulan Ramadhan tahun 2007, saat Beliau menjemur pakaian di teras atas rumah, saat turun dari anak tangga, Beliau lemas dan mendadak jatuh pingsan, Pak De Ari , Suami Beliaupun tertegun seketika, sambil mengucapkan ‘isthigfar” segera membopong sang istri menuju tempat tidur untuk diistirahatkan sambil diberinya cairan minyak kayu putih agar pingsannya reda, sementara anak Beliau, Lia ( Suster Rumah sakit mitra ), dipanggil dan mencoba untuk mengobati sakitnnya beliau, namun keadaan makin buruk, beliau pingsan terlalu lama dan akhirnya mengalami koma ( Stroke ) setelah sampai diRumah Sakit Mitra Jatinegara siang itu, seluruh keluarga besar Beliau menunjukkan rasa sedih,bingung dan sedikt panic, mengingat sudah hampir 10 hari Beliau mengalami Koma, tak banyak yang bisa diperbuat keluarga besar Beliau, selain segala sesuatunya diserahkan kehadirat Allah SWT dan memohon Doa bagi kesembuhan Sang isri, Ibunda dan nenek tersayang. Dihari ke 11 tampaknya Allah mendengar Doa hambanya, melalui Dokter yang merawat dan sekaligus mengobati Beliau, Lambat-laun status KOma berubah menjadi siuman, perlahan tapi pasti kesehatan Beliau semakin membaik, hingga akhirnya Beliau dinyatakan boleh pulang dan berobat jalan dengan control Dokter Mitra. Ujian telah dilewati, kesehatan Beliau sekarang ini memang berbeda jauh dibandingkan dengan kesehatan beliau sebelum terkena koma(stroke), sepanjang pemulihan penyakitnya, Beliau selalu ditemani oleh Suami tercinta, tak ada waktu luang yang dikerjakan Sang Suami selain turut prihatin terhadap penyakit yang menimpannya, serangan stroke sempat hampir menggangu memori Beliau, Beliau agak sedikit sukar mengingat Rekan-rekannya yang coba mengunjunginnya di Rumah, sekedar berbagi cerita dan prihatih atas musibah yang terjadi, Beliau lebih banyak tersenyum dan tatapannya kosong kedepan, Beruntung Kesabaran Sang Suami merawat dan menjaganya benar-benar bisa memulihkan kesehatan Beliau, sifat penyabar sang suami dan perhatiannya terhadap sang istri , ini yang memberikan motivasi pulihnnya kesehatan Beliau, walau masih dalam keadaaan Sakit Beliau masih menyempatkan diri untuk bersilahturahi dan berlebaran bersama keluarga dan kerabat di Rumah. Itulah hari Kebahagian bagi Bude Tercinta dan keluarga besarnya atas pulihnnya kesehatan Beliau, kebahagian semakin lengkap tatkala Beliau punya hajat bagi putri satu-satunya yang menikah dengan Rekan SMAnya, hajatapun digelar di Rumah tercinta dengan sederhana, diiringi adat Jawa, Beliau dan Sang Suami sangat gembira, wajah sumringah terpancar diwajah keduannya, walaupun hujan sangat deras mengguyur pelaksanaan Hajat tersebut diujung acara menjelang magrib, tapi inilah kenikmatan sebagai orang tua melepas putrid-putrinya hidup mandiri , berumah tangga, menjalankan ibdah kepada Allah, sungguh Allah telah memberi Rahmat dan Berkahnya kepada kelurga Bude tercinta, atas kesabaran yang menimpa beliau tatkala ditimpa musibah penyakit.
Hidup memang tak seperti yang kita duga, keinginan manusia sangat multidimensi, saat seseorang semakin dekat dan beriman kepada Tuhannya, ujian terkadang datang menghampiri, manusia tak bisa luput atas ujian dirinya, namun Allah memang sudah mengisyaratkan didalam firmannya, bahwa ujian akan diberikan kepada manusia orang –perorang, lengkap dengan solusinya dan kesanggupannya, tinggal manusia yang harus menemukan dan mencari rahmat tuhan di bumi ini dengan iman kepadannya dan tetap bersabar. Hari Sabtu pagi pukul 08.15, kami dikejutkan dengan kabar meninggalnya Bude Tercinta , Beliau telah dipanggil Allah SWT pada tanggal 25 April 2009, Sang Suami pasrah , LIa anak putri satu-satunnya tak percaya bahwa ibunda tercintanya telah tiada, Beliau meninggalkan 1 Putri dan 2 Putra, mereka semuanya telah berkeluarga, memang setelah sembuh dari penyakit strokenya 2 tahun lalu, Beliau sebenarnya sudah diperkenankan dokter boleh beraktivitas lagi, 2 minggu sebelum wafatnya beliau, Beliau terserang usus buntu dan gejala paru-paru, operasi usus buntupun sudah dijalankan Dokter, namun lemahnya kondisi kesehatan ini yang telah menghembuskan nafas terakhirnnya menuju kepangkuan Allah Swt . dengan tenang, tetapi memang sebelum ajal itu tiba, Allah telah menunjukan sinyal-sinyal kebesaranNya kepada semua keluarga Bude Tercinta, Kepada kami, kepada para Tetangga, Kepada Rekan Di Majelsi Taklim, kepada Adik-adik tercinta, namun memang dari kami semua, dan tak seorangpun yang bisa menangkap dan mengerti dengan jelas sinyal-sinyal kebesaran Allah Swt itu, kematian memang sangat misteri, yang jelas Dia pasti akan datang dan mengunjungi setiap manusia yang bernafas, waktu dan tempatnya siapapun tak punya ilmunya kecuali Allah Swt.
Demikianlah, sepenggal catatan bersama Bude tercinta, kebetulan kami ditunjuk mewakili pengurus warga untuk melepaskan kepergian Beliau tercinta keharibaan Allah swt, tentunya kami mendoakan agar Almarhumah mendapat tempat yang layak disisi Allah Swt, dan segala amal ibadahnya diterima dan mendapat pahala yang sebesar-besarnya, dan keluarga yang ditinggalkan ( Pak De Ari, Mas HAndoyo, Mas Handoko, ‘Mbal Lia, ‘Mbak Novi, Qomar dan Hany ) mendapat ketabahan dan kesabaran dariNYa, Selamat jalan Bude tercinta, selamat jalan Ibu Djuwariah, 62 tahun engkau telah menghiasi alam dunia ini, tinggal kami yang ditinggalkan, yang harus bisa menentukan apakah tulang-belulang Bude punya arti bagi kami, Insya ALLAH kami akan tumbuh dan mengenang Bude dengan segala sifat-sifat kemanusiannya, segala karyanya, terkadang kami sering menangis, namun semuannya kami kembalikan kepada kebesaran ALLAH semata, karena kami yakin kamipun akan kembali kepadaNya. Teriring Doa dikalbu kami. AMin. ( Msntro&li2h).
Minggu, 12 April 2009
TPS 124 Aren Jaya
Menjadi petugas di TPS bukan perkara sederhana, perlu kesiapan fisik, fikiran dan juga emosi,selain sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pemilu, lewat petugas tps inilah hasil perolehan pemilihan itu sendiri diperoleh dengan sangat akurat dan pasti, peran inilah yang menjadi tanggung jawab petugas Tps, selain cukup melelahkan juga terbilang cukup berat untuk proses yang harus diselesaikan dalam satu hari penuh. Anda bisa bayangkan kalau tidak ada orang yang bersedia menjadi petugas Tps, salah dalam proses penghitungan suara , maka sudah pasti semua hasil yang diperoleh akan salah, dan kalau sudah seperti ini, bukan hanya cemoohan yang didapat, tapi cercaan, hinaan dan bahkan kekerasan fisik mungin saja terjadi dan menimpa petugas Tps, baik dari Pemilih itu sendiri, Saksi, pemantau bahkan Calegpun tidak mustahil akan ikut mencari anda , apalagi kalau perkara sampai ke polisi, bukah honor yang didapat tapi borgol yang dipasang.
Alhamdulillah, peran dari beberapa warga Sangray yang gabung di TPS124, cukup solid dan bisa membantu lancarnya proses pemilu itu sendiri, mulai dari DPT yang berjumlah 320 orang, hingga penyerahan kembali kotak suara hasil perolehan dari peserta pemilih ke PPS di kelurahan Aren jaya hingga menjelang jam setengah satu dini hari. Yang mungkin berbeda adalah kalau dulu orang hanya mengenal 3 lambang saja, kalau tidak banteng, ya pohon beringin , kalau tidak keduanya pastilah gambar bintang, tapi tahun 2009 ini orang dipaksa untuk melihat begitu beragamnya gambar partai mulai dari Gambar kepala Garuda, Bintang Biru, Bintang Merah, Gambar Payung, Gambar Bulan,gambar matahari, gambar padi dan bulan sabit, gambar merpati, gambar bola dunia, gambar orang bersalaman, gambar delapan penjuru mata angin , Hanura, Pelopor, Barnas hingga Foto-foto caleg dari mulai kaum muda hingga yang seumur-umur masih tetap bercokol di DPR. Mulai dari bintang sinetron hingga penyanyi dangdutpun bisa dadakan jadi caleg. Sambil berkelakar , orang muda di TPS 124 berucap sesame anak muda “ Coy, gambar ape yang mesti gue contreng “, rekannya menyahut Emang Gue pikirin, eh ternyata kata-kata tersebut ditulis besar-besar dikertas suara aslinnya, EMANG GUE PIKIRIN, penipu rakyat, sampae tanda contreng dibuat sebesar tahi lalat, masih kelihatan tapi bikin pusing petugas KPPS dan para saksi, berdebat panjang lebar, mulai dari ukuran sudut sampai sengaja dicontreng atau tidak sengaja di contreng, maklun syah dan tidaknya suara itu menentukan keputusan lolos tidaknya bagi seorang Caleg. Makanya area TPS itu bukan hanya tempat pemungutan suara tapi sudah menjadi wadah Tempat Pusing Semua orang.
Yang tak kalah penting selain perhitungan suara adalah pencatatan record tanda tangan, amatilah saat acara rapat pembukaan dibuka,dan setelah kartu suara resmi diterima dan dicatat jumlahnya, sejak saat itulah satu demi satu tanda tangan seorang ketua Kpps mulai mengcounter, bisa seribu, bisa dua ribu atau bisa lebih dari itu, dalam satu hari penuh, jumlah yang tak umum, dan tak mungkin untuk sekaliber orang yang active diduia kerja manapun, semisal ketua Kpps Tps124, pukul 07:30 sudah mulai membubuhkan tandatangannya di surat suara, hingga pukul 12:00 siang ditutup, dengan total pemilih sebanyak 240 orang yang hadir, hasil kalkulasi 240 x 4 berjumlah 960 buah tanda tangan, plus surat undangan dari dpt 320 orang, plus 4 tandatangan hasil perhitungan suara( DPR,DPD, PDR Propinsi & DDP Kota), plus rekap perhitungan hasil suara detail sebanyak 10 tandatangan dikali empat, plus 19 tandatangan pada jenis sampul yang berbeda, plus tandatangan untuk kebutuhan para saksi, plus tandatangan berita acara penyerahan di PPS, sungguh menakjubkan memang system pemilu kita, selain hasil Caleg yang tidak banyak dikenal orang, juga pandai memberi lelucon yang menyentuh untuk ukuran wong cilik, perhatikan saat penghitungan suara dimulai atau tengok saja saat peserta pemilih memberikan hak suaranya di bilik suara, melipat kertas suara yang selebar Koran itupun saja sudah membuat oarng ketawa, belum lagi hasil yang dicontreng di surat suara, tidak hanya satu yang dicontreng tetapi lebih dari 2 tak masalah bagi pemilih bingung, EGP kata gaul anak sekarang.
Senin, 30 Maret 2009
Selamat Jalan Pak Bais
Rekan seprofesi dan sama-sama menjadi tetangga kami, Pak Abdullah Wali pernah bertutur bahwa sikap dan jiwa pendidik beliau sangat punya nilai bagi hampir semua murid-murid yang pernah belajar dengan beliau, salah satu yang menjadi bukti bahwa mantan murid beliau semasa beliau mengajar di Padang dan Palembang, yang saat ini menjadi tetangga Beliau, adalah juga seorang Guru, sebut saja namanya Pak Gani, yang punya kapabiltas yang memang perlu diajungi jempol, Mengapa ? selain mantan murid beliau tegas, juga punya daya social tinggi dilingkungan komunitas sangray, kepeduliannya terhadap perekembangan remaja di lingkungan tempat tinggalnya, telah menghasilkan sebuah motivasi kepada adik-adik Remaja, tidak sekedar belajar mengungkapkan pikiran, tapi juga cara berbicara lugas, Berisi, Kritis , tegas serta punya arah yang jelas. Inilah yang kami catat sebagai benang merah dari sosok dan buah pikiran dari seseorang yang kami kenal sebagai Pak Bais. Terkadang kami maupun orang lain, kurang menghargai terhadap peran orang lain bagi kemajuan diri pribadi, ibarat Daun sereh ataupun daun salam, saat kita butuh sesuatu sebagai penyedap, misal saat membuat nasi uduk, maka kedua bahan ini paling dicari untuk dijadikan pelengkap bagi harum dan nikmatnya panganan tersebut, namum tatkala sudah kita santap semua panganan tersebut sampai habis, tak hayal yang paling terpinggrkan diatas piring adalah tinggal daun sereh dan daun salam.
Kini beliau telah beusia 73 tahun, tahun kegembiraan yang pernah beliau hadirkan adalah saat kami sama-sama bergembira diacara family gathering komunitas Sangray, Juni 2008 memberi kenangan tersendiri, tidak hanya special buat kami, namun sekali lagi beliau juga memberi kehangatan bagi keluarga beliau, ketulusan dan keikhlasan beliau untuk hadir diacara tersebut, sekaligus mengawal putri bungsu beliau yang masih sekolah, terasa larut pada suasana pedesaan dan lingkungan yang alami dan asri di pondok maos. Dukungan lain yang beliau juga hadirkan adalah saat hadir dan memberi ucapan selamat kepada Ketua RT terpilih periode 2008 – 2011.
Tatkala mendengar berita bahwa Beliau jatuh Sakit, kami Sock, karena sepanjang memori kami, beliau sehat dan tidak punya penyakit yang membawanya sampai ke ruang opname, sungguh semenjak sakit dan terserang Stroke, kebersamaan kami menjadi berkurang, tangan kiri beliau terkena stroke dan tak bisa diangkat layaknnya semasa beliau sehat, kata-kata yang diucapkan pun hampir tidak jelas, kurang focus, namun ingatannya untuk Rekan-rekan yang hadir saat besuk, luar biasa, sorot matanya seperti anak panah yang mengarah ke kami, seolah kebersamaan yang sudah dibangun hampir 18 tahun bersama kami, tak ingin Beliau tinggalkan begitu saja, Namun Allah berkendak lain, tekanan darah yang terus menerus turun hingga di angka 50, tak punya pilihan lain, salah satu tetangga kami, Pak Abdullah, Pak Hanung, Ibu Nursigit suster di RSPP, dan Dr. Rivai segera kami panggil saat saat kritisnya beliau di rumah yang dihuninya bersama istri, anak, dan mantu. Upaya kami membawa beliau ke Rumah sakit terdekat, tidak membawa hasil, ALLAH telah memanggilnya lebih dahulu, saat perjalanan mobil kami merapat dijalanan menuju Ganda Agung, Tarikan nafas terakhir sempat kami dengar, seolah ucapan salam terakhir beliau, Beliau rebah dipangkuan istrinya, menghadap sang Pencipta, saya, Pak Dr. Rivai, bersama Mobil yang dikendarai Pak Ari Nurwanto, kembali menuju Rumah Almarhum, diiringi isak tangis, Istri, dan dua anak beliau Ajid, dan nadia dalam satu Mobil. Saat itu jam menunjukan angka 20:15 Wib, tanggak 14 Maret 2009.
Innalillahi Wa Inalillahi Rojiun, Selamat Jalan Pak Bais, Semoga engkau mendapat tempat yang layak disisiNya, dan mendapat ampunan atas segala dosa yang disengaja maupun yang tidak, kami adalah rangkaian yang suatu saat akan juga kembali kepangkuanNYA, Selamat jalan Pak Jamahir, belakangan baru kami tahu, bahwa Jamahir adalah nama asli beliau, Pak Bais adalah nama orang tua Beliau., Maafkan kami. Amin. ( #msntro * ).
Kamis, 19 Maret 2009
"SOP JANDA 2100"
Meskipun awalnya tak sengaja, namun begitu saya sudah menyantapnya tuk pertama kalinya, rasanya lidah ini seolah-olah “mengepul”, rasa kuahnya benar-benar memberikan sentuhan yang khas, Shop yang satu ini rasa pedasnya tak tanggung-tanggung, seketika itu juga rasanya bibir saya langsung disambarnya, rasa pedas, bibir bergetar-getar, keringat tak habis-habisnya meluncur , seolah Daging Sapi plus Iga yang disajikan diatas mangkok Sop begitu menyatu, apalagi ditemani dengan nasi putih panas plus Teh manis dan aneka soft drink lainnya. Aroma dan suasana ini yang membuat saya telah melupakan rekan kami, padahal sebelum saya berkunjung ke tempat ini, canda dan ledekan di ruang bezuk Rumah sakit Mitra Timur, sempat menggoda selera makan Rekan saya, yang notabene rekan saya ini paling Top dengan urusan makan, maklum semenjak satu hari lalu, rekan saya ini dinyatakan empedunya ditempelin batu, semenjak itu urusan makan menjadi sensitive banget. Seiring dengan habisnya jam bezuk, ide untuk menyantap “ Sop Janda 2100” meluncur secepat dengan datangnya rasa lapar, maklum waktu jam makan siang wis teko, perut ini tak mau diajak kompromi, akhirnya kami berenam mendatangi kawasan industri MM2100, suasana ramai sempat membuat kami harus menunggu, maklum sebagian karyawan di salah satu kawasan indutsri di Bekasi ini, juga sudah akrab dengan Sop ini, beruntung kami hari itu bisa mendapatkan meja yang strategis buat kami.Ketika semuanya sudah dimeja makan, rasanya tak sabar tuk secepatnya mencicipi Sop itu, Rekan saya Pak Ari Mudiarso yang biasa kami panggil Pakde, rasanya sangat menikmati, makanya urusan “Mindo” tak membuatnya jadi malu, urusan selera memang sangat privasi sekali, belakangan saya tahu kalau rekan satu komunitas Sangray yang sering menyantap disini adalah Pak Triantoro , Si raja Outbound yang juga sering dijuluki Pak Bondannya di komunitas sangray, maklum pria yang satu ini memang paham dan tahu persis liku-likunya kawasan mm2100, selain sehari-hari bekerja di kawassan tersebut , beliau juga ahli untuk urusan masak-memasak. Yang khas dari sop ini adalah dominannya bumbu Cabe Rawit segar, selain bawang putih, bawang merah, ada juga daun salam, sereh, Jahe, daun bawang seledri, iga sapi tentunya, makanya urusan santap dan rasa nikmatnya sop ini ada di Bumbu cabe rawitnnya, sehingga khas dan uniknya adalah saat rasa pedas menyentak serta menyambar-nyambar dibibir. Beberapa rekan lainnya seperti Pak Pardi, Pak Darto, Pak Sugiono , Pak Taufik serta Habib , rasanya mereka baru saja mengikuti lomba adu keringat. Hari itu adalah rangkaian yang ke sekian kalinya untuk urusan kuliner, dari mulai Soto mie, Soto Kudus, Soto ceker, sate maringgi, ayam baker, ayam gantung karawang, nasi kucing hingga ke pondokan Sadang kalijati. kebersamaan , naluri makan, canda tawa, konvoi, itulah sarana yang sering dijadikan tujuan.
Wah, setelah lepas dari mm2100 dan diujung tol timur, baru kepikir kalau penamaan sop janda itu apa ada hubungannya dengan pemilik warung, atau itu hanya sebuah penamaan kelakar saja, biar gampang dan penuh sensasi. Dasar naluri lelaki, inginnya yang simple dan nakal. Atau mungkin karena pengunjung yang datang kebanyakan kaum lelaki, secara serentak membuat gaung yang sama, padahal kaum perempuanpun punya peluang yang sama untuk memberi nama, ingat saja Ayam Goreng Suharti, yang begitu terkenal dan hingga kini masih padat pengunjungnnya. Tapi kami tak ambil pusing, bahkan pengunjung lainnpun rasanya tak peduli dengan penamaan dan sisipan kata-kata Janda, bagi penikmat kuliner sejati, rasa , olahan dan khasnya sebuah santapan adalah minat utama, kalau ketiga unsur itu sudah sangat menggoda dan ada pada sebuah santapan, penamaan perkara nomor dua, seperti Nasi kucing, makanan yang baru saja popular dan hanya sedikit porsinnya, namun coba saja lihat segmentnya kalau sore hingga malan hari di beberapa pojok jalan. Masyarakat begitu ingin mencobannya.
Rabu, 07 Januari 2009
Jakarta-Subang ( The Dangdeheur Party)

Setelah lama tak ada realisasinya, baik yang punya hajat, maupun yang ngotot tukang nagih janji, Namun kali ini, setelah pulang dari negeri Nun jauh di sana, ( Swedia ), kali ini si AA ( panggilan akrab dikomunitas sangray ) benar-benar punya rencana yang udah jauh hari ada dikepala, saat tanggal 14 Desember 2008 , hari yang sudah disepakati tiba, sekonyong-konyong seluruh rencana yang siap ready, menjadi ditunda, karena salah satu rekan kita dikomunitas sangray, jatuh sakit dan harus dioperasi pada salah satu organ penting tubuhnya, sang istri bilang, bagian empedunya yang harus dioperasi karena ditempeli semacam batu. Operasipun berjalan lancar pada esokAnehnya, dan sudah menjadi ciri khas dikomunitas Sangray, sesuatu itu apabila sudah direncanakan, sepanjang historisnya. Bisa dihitung dengan jari, mana yang berhasil lolos sampai ke hari “H”nya, dan mana yang hasilnya Nol besar. Sekedar menambah catatan pada tanggal 28 Desember 2008, tepatnya hari minggu pagi, jam 08:00, antrian mobil dari mulai Avanza tahun terakhir hingga Toyota kijang jenis Roverpun ikut memeriahkan jalur Jakarta Subang, plus Opel blazer hijaupun ikut menempel padahal rute si Opel hijau ini sudah disetting di km Jakarta Surabaya. Demi kebersamaan dan kerukunan komunitas Sangray lengkaplah sudah seluruh personil komunitas sangay hadir dan berkunjung ke rumah di si AA.
Sekedar kilas balik, si AA ini punya riwayat hidup cukup unik juga, dan mungkin sampai detik ini, Elo ratingnya untuk urusan mengenal negeri orang lain atau bangsa lain cukup tinggi, India adalah Negara yang paling pertama dikunjungi, berikutnya Swedia, Cina, Amerika, Paris, Irlandia, Belanda, Jepang, Kroasia, Inggris, dan masih ada lagi yang belum diceritakannya. Perkara kenapa si AA bisa melalang buana ke negeri orang, itu pasti garis tangan si AA tidak punya sambungan, Hoky berat kata orang cina, tapi kalau kita mau telusuri hatinya si AA, dia itu homesick banget ama yang namanya kota Subang, maklum Soulmatenya asli Subang, udah gitu hobinya ama dunia pertanian semisal Ikan, hewan kambing, terasa banget waktu rombongan komunitas Sangray sampai diujung rumahnya, kolam ikan dengan segala penghuninya seperti Nila, Koi, Mujair, Gurame, Mas hingga rumah waletpun bertengger disana.
Coba deh rekans bayangin, waktu memasuki area tempat kita dijamu, dari Sate kambing, Shop kambing, Pepes ikan Nila, pepes Mas, tempe tahu, kerupuk, lalapan, Sambel goang, hingga Abang Baso beserta gerobaknya hadir sambil melayani pesanan adik-adik dari Komunitas Sangray, yang pesan baso doang, pesan dengan mie atau yang asyk dengan sate kambingnya, semua Gratis, belum lagi rambutan, Nanas, Rujak sampai si Anak semata wayangnya berfashion show dengan sarung sambil menggandeng pasukan dari rekans didusunnya. Itulah sebagian dari yang bisa dinikamti, canda tawa , lepas bagai tak terkendali, Apalagi disana Hadir si Mama IKA, spesialis tukang ngebodor dengan segudang banyolannya dari Duren ( Duda Keren ) hingga teknik memancing ikan.
Terbayar sudah hajatnya si AA, lengkap sudah kegembirann warga sangray, lima belas buah pancingan plus kailnnya, menjadi atribut keceriaan, dari si yang punya hobi berat mancing, sampe yang belum pernah mancing, dari Ibu-ibu, bapak-bapaknya hingga anak-anak kecil dan remaja baik putri maupun putra, seolah tempat itu menjadi tempat aktualisasi semua peserta yang hadir, ajang pemecahan record pun menjadi catatan tersendiri, dari Pemancing yang paling cepat dapat, seper sekian detik, diraih oleh Ibunya Oca ( Tante Vivin ), record paling banyak dapat ikan, tak lain si Raja Pancing dari Sangray, Pak Triantoro, record ikan terpancing paling kecil, diraih oleh Pak RT, special hadiah tak ada yang disiapkan, yang pasti kerukunan dan kegembiraan yang menjadi mimpi kita bersama, sudah hadir untuk semua warga Sangray. Mendadak kegembiraan bertambah semarak ketika serombongan warga Sangray yang lain, yang habis menghadiri hajatan kawinan ikut gabung di sana, Pak Triyogo plus keluarga, Pak Supartono plus keluarga serta rombongan Laskar Sangihe yang dipimpin Ibu Nunung serta sederet anak-anak gamer dari sangihe Deri, Dio, Danur, Ole, Dito, kanya, Nanda dan Mas Hendra ikut bergabung.
Spesial thanks juga kita acungi jempol buat Pak Hanung and Family, walau habis operasi empedu, masih sempat hadir dan ngawal acara Jakarta-Subang, buat Pak Taufik plus keluarga, ‘tuk Pakde Ari plus keluarga, Pak Endang and Family plus nenek, Pak Dedy plus keluarga yang langsung ngukur jalan hingga ke Surabaya, ‘Tuk Pak Hasnan and keluarga, buat Pak Trisno dan Nawan, Buat Pak Supardi and Soulmatenya, Buat Tante Vivin plus family, buat Ibu Ari Nurwanto plus sinta, buat Ibu Gani dan Kak Embo, Buat Pak Nursigit plus keluarga, ‘Tuk Pak RT and family, dan terakhir buat rombongan para “bujangan” special buat Pak Triantoro ( si Raja Mancing ), Pak Abdullah ( sesepuh Sangray ), Buat ibu Ika Herman Hermawan ( “kalau enggak ada kamu enggak Rame” ), juga buat Angga yang mewakili ibu dirumah.
Pepatah bilang, kalau ada Sumur diladang bolehlah kita menumpang mandi, kalau ada Si AA …….. mau lagi doooooooong, itulah ungkapan hati paling dalam warga Sangray, sekali lagi Thanks berat buat Pak Suhyar ( AA), beserta Ibu Suhyar, Ami anak semata wayang, plus salam berat buat Family Pak Suhyar di Subang. Sekali lagi thanks, thanks, thanks, sembari pamit pulang, sepenggal lagu dadakan dalam alunan Acapela “Kasih ibu , kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, Bagai Pak Suhyar menyinari Sangihe……………...ha 12 x.” ( *Msntro*)


