Hawa panas yang dirasakan hampir oleh semua orang pada minggu-minggu ini, tidak hanya ada dirumah kami, namun sudah merambah pula ke rumah tetanggaku, apalagi AC dirumah kami tak kelihatan batang hidungnya, hingga malampun tiba masih dirasakan panasnnya, beberapa kali kemeja dan kaos yang kupakai , tak bisa kuingat berapa kali aku ganti, kadang aku berlari keluar sekedar mengurangi hawa panas,aku enggak ngerti apa yang menyebabkan suhu luar begitu panas terasa, inikah yang disebut pemanasan Global, lapisan bumi tak sanggup lagi menahan panasnya udara, terlebih suhu yang dimunculkan dari kawasan industry dan jutaan mobil di Bumi ini benar-benar merepotkan hampir sebagian penduduk dunia.
Dunia memang sudah tua, hawa panas tidak hanya lewat pemanasan global, lewat materi, tapi juga lewat hati, lewat emosi, lewat kebutuhan yang tertahan, ini benar-benar nyata, Saat aku harus kekantor dan harus sampai di kantor pukul 8 Pagi, aku siasati dengan pergi lebih awal, Bis Mayasari Bakti P-52 jurusan Bekasi tanah abang , biasa menemani aku ke Kantor, agak telat memang hari itu, sekitar jam 6:30 bis yang biasa aku tunggu, ternyata tak kunjung tiba, padahal penumpang lain yang sama-sama denganku sudah menggoyang-goyangkan kepalanya, melirik kearah datangnya Bis, mereka paham benar mobil datang dari arah mana , selalu datang dari arah keluar tol bekasi timur, dari Arah Poll, menuju terminal, langsung belok didepan Pom bensin Depsos, tak berapa menitpun bangku-bangku penumpang sudah terisi penuh, segera Bis itu menyisir melalui Jl HM Joyomartono menuju pintu masuk Tol Bekasi Timur Jatibening hingga Toll Dalam Kota Cawang. Perjalanan memang agak lancar pagi itu, hingga lewat tol jatibening, rasannya perjalanan serasa tidak dihari kerja, tiba-tiba rasa kantukku muncul sejalan dengan lalu lintas yang macet di sekitar Pondok gede, kumanjai rasa kantuk itu dengan menyenderkan kepalaku kebantalan bangku sejajar kepalaku, nikmat dan ini anugerah dari Allah swt, hingga aku lupa berapa lama aku tertidur, tapi rasannya jam masih menunjukan tepat pukul 8:30, dan Bis baru saja lepas dari kemacetan di Pintu Toll Cawang, Sayup-sayup ku dengar, suara sirine khas dari Mobil polisi, suara seorang wanita, Polwan dengan pesan Jangan menggunakan Bahu Jalan, bahu jalan hanya diperuntukan bagi keadaan darurat, beberapa kali pesan itu diulang-ulang hingga akhirnya mampir juga ke Bis yang aku tumpangi, Si sopir sepertinya telah melanggar marka dan bahu jalan Toll, namun siapa menyangka bahwa pesan itu berujung pada debat-debatan antara petugas polisi dengan si sopir Bis, dalam beberapa waktu debat panjang semakin tidak jelas, sang petugas Jalan Toll, sepertinya tak memberikan surat tilang, sayang tak jelas kenapa mereka tidak menemukan titik masalah dan titik temu solusinya, petugas Polwan dan seorang rekan tugas polisi lainnya, bersikeras mobil ini tidak boleh jalan , Penumpang diminta agar menggunakan Bis lainnya, semakin runyamlah situasi, bukan solusi yang muncul malah usilnya polisi dan Si Sopir bis mengunakan situasi ini untuk arogansi maing-masing.
Manusia memang dikendalikan oleh segumpal daging, yang disebut hati, tak peduli dia moderm ataupun kampungan, situasi antara keduanya, petugas polisi dan si Sopir, menjadi ajang tontonan para penumpang diatas Bis, sama dengan kalau kita nonton bola Indonesia, penonton punya ruang gerak yang bebas dan sangat kritis menilai, terkadang bisa diluar kendali, sumpah serapah , makian dan kata-kata kotor juga muncul diatas Bis yang aku tumpangi, aku yakin dan sangat yakin bahwa sekian orang penumpang yang berada di Bis itu, punya kepentingan lain, kepentingan kantor, pribadi atau apapun sebutannya, rasannya keramah tamahan orang Indonesia tak aku jumpai di atas Bis situ, wanita dan pria punya karakter yang tidak beda, tipis rasanya kalau sudah menyentuh Emosi dan nafsu, Aku lihat wanita muda, cantik, berkacamata , tak pelak menjadi perhatian orang-orang disekelilingnya, emosinya sangat luar biasa, antara membela si sopir atau membela kepentingannya karena mungkin Dia sudah terlambat tiba dikantor, perdebatannya dengan Pak Petugas polisi punya karakter sangat berani, dia mulai mengajak semua penumpag untuk turun dari Bis , entah apa jalan pikjirannya, semua orang punya pendapat dan tafsiran yang berbeda,punya kacamata sendiri –sendiri dengan cara pandang yang juga berbeda, lebih jauh lagi, Wanita muda ini menggugat-gugat karakter laki-laki, Kenapa laki-laki diatas Bis ini tak ada yang berani untuk bicara pada Petugas Polisi, kenapa beraninya hanya diatas Bis dan hanya mengebrak-gebrak langit-langit Bis, beberapa lelaki tak akan meladeni situasi seperti ini, terlihat seorang lelaki mundur teratur langsung ke Bangku barisan belakang, Bunga-bunga emosi wanita ini tak lazim dan hanya menunjukan bahwa siapa dia sebenarnya, kata-kata yang dia ucapkan sangat tidak menjaga kesopanan, Polwan Gendut, Polisi maunnya hanya duit saja, hingga kata-kata penghuni kebun Binatang muncul dari mulut manis wanita muda itu,situasi menjadi tak jelas, kulihat wanita mUda disampingnya, seperti tak enak hati, rupannya sesama karakter wanita didalam Bis yang sama, akan bercermin dari situasi itu, dicobanya turun dan bicara dengan polisi yang menilang Sopir Bis tsb, sangat ramah dan punya karakter solusi yang akhirnya Bis yang kami tumpangi boleh berjalan kembali. Seiring Bis itu berlalu dari Polisi yang menilangnya, seiring semakin bisu situasi di atas Bis itu, cape , lelah, letih, hingga sampai jugalah para penumpang di Halte Polda, bergegas turun untk kepentingan masing-masing.
Lama aku termenung, Bis ini telah memberi aku pelajaran tentang karakter manusia, situasi yang sama tidak selalu satu paket dengan solusi yang sama, ada bagian-bagian yang menjadi kerikil disetiap situasi , kerikil rohani, kerikil mental, dan kerikil kelakuan, peristiwa itu telah memperlihatkan bagian kecil dari Indonesia yang aku cintai ini, Ahamdulillah bahwa Petugas Polisi itu, Wanita Muda cantik, Bu Polwan, Sang sopir , Kernet, Para Penumpang Bis adalah benar-benar makhluk ciptaan Allah, Seandainya Mereka adalah Ciptaan Iblis, pastilah sejarah Indonesia tak pernah dicatat dengan tinta emas, biarlah kepada mereka-mereka menorehkan sejarahnya sendiri. Indonesia my Love. In the journey at 20/05/2009 ( #Mstro# )
Selasa, 02 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)


