Untuk pertama kalinya, Panitia peringatan HUT RI-63 komunitas Sangray melahap habis seluruh jalan antara “ Thamrin – Sudirman” dengan pagelaran Parade Ngamen Jalanan. Dengan berbagai nyanyian anak bangsa berformat Lagu-lagu perjuangan kemerdekaan Indonesia terus menggeber semangat perjuangan menuju sejumlah titik-titik indah dipemukiman Sangray di hari sabtu pagi tanggal 9 Agustus 2008. Tante Vivin sebagai Koordinator pageleran Nyanyian perjuangan menyatakan pagelaran itu benar-benar hebat, sebuah pagelaran yang coba menggandeng anak-anak remaja tingkatan SD dan SMP ini, punya semangat yang luar biasa. Butuh perjuangan tersendiri untuk bisa mengajak adik-adik remaja ini bernyanyi sepanjang pemukimanan , door to door mereka lakukan, sambil menikmati suasana kegembiraan yang mereka hadirkan untuk warga dilingkungan maupun kegembiraan bagi diri mereka sendiri. Ditemani seperangkat alat-alat musik seperti Gitar, Marakas, Tifa, Harmonika, Sner, Tambur, gendang, Perkusi serta atribut merah putih terpasang dikepala meraka, sebuah tanda hari peringatan kebangsaan Indonesia telah lebih awal hadir sebelum tanggal 17 Agustus . “ Hampir seluruh rumah yang kami lewati penuh kesan” kata Devi, siswi kelas 3 smp yang ikut dalam nyanyian perjuangan tersebut.
Namun begitu, kesan yang sesungguhnya indah itu, kata wanita yang akrab dipanggil tante Vivin ini adalah saat mereka menemukan Pria yang masa mudanya ikut berkecimpung langsung dalam kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia sesungguhnya. Maklum selama ini, beberapa orang tua dilingkungan tempat tinggal kami, tidak pernah menunjukan semangat Kemerdekaan yang ditunjukan oleh Pria ini, dengan spontanitas yang tinggi Bapak satu ini, dengan lantang ikut menyanyikan lagu-lagu seperti yang kami nyanyikan, sebut saja nyanyian perjuangan “ 17 Agustus 45 “, Bangun Pemuda-pemudi, Halo-halo Bandung, Maju tak Gentar.
Yang tak kalah hebatnya, Bapak satu ini ikut menggerakan seluruh semangatnya lewat gerakan-gerakan tangan bagaikan Dirijen pada sebuah konser pertunjukan kolosal. Prilaku dan semangat ini bagaikan anak panah kerinduan ke masa silam maupun kemasa depan nantinya. Kerinduan sebagai bangsa yang telah mengikatkan hati dan jantungnya hidup mati untuk memperoleh sebuah kemerdekaan , kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi serta kemuliaan .
Orang-orang yang kini sedang memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-63 ini, termasuk Bapak yang tadi itu, secara diam-diam mungkin sedang berupaya untuk mencari sesuatu yang dulu pernah mereka rasakan, yang mereka pernah alami, yang mereka rindukan, yang mereka kangeni sebagai sebuah bangsa, sebagai rakyat , sebagai orang desa, sebagai Wong Cilik, sebab dalam kenyataan hidup mereka sehari-hari kini, hanya sedikit yang bisa mereka peroleh sebagai bangsa yang telah berusia 63 tahun, selebihnya kenyataan jauh dari apa yang mereka rindukan. Betapa kita merindukan seorang Pemimpin yang tidak hanya berkuasa tapi juga punya kelebihan terhadap cinta kasih bagi rakyat, dan punya keadilan yang tinggi.
Secara keseluruhan, suka duka dan kegembiraan yang mereka lalui bersama dalam pagelaran, ini menjadi modal dan mempertebal rasa persaudaraan dan kerukunan diantara mereka, sekaligus juga ikut menjaring rekan-rekan mereka yang belum dapat sepenuhnya bergabung pada parade Ngamen perjuangan. Lebih jauh lagi pengalaman dan kegembiraan itu akan mereka deklarasikan pada sebuah kata-kata yang “Allways On” tetap dapat menyemangati perjalanan mereka kelak dalam berbangsa, bernegara dan bersosial.
Karena itu, setelah pagelaran ini, sejumlah acara akan digelar kembali untuk tetap menumbuhkan kreatifitas dan semangat mengisi kemerdekaan ini, Pada Malam Puncak HUT RI ke-63 pada tanggal 17 Agustus 2008. MErdeKa. (#msntro#).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar