Selasa, 03 Juni 2008

Suatu siang di kebun milik Pak Nunung

Rasanya sih tak sulit kalau kalian mau berkunjung ke kebunnya, tempatnya sendiri letaknya tidak jauh dari Wilayah Sangray, hanya mungkin dipisahkan oleh wilayah RWnya saja. Untuk menemukan lokasinya bisa dijalani lewat kampung sebelah, atau bisa disisir lewat jalan Raya Irian jaya, hingga sampai diujung Jl.Irian Jaya raya, kalian akan sampai pada pangkalan Becak satu-satunya yang ada di komunitas Sangray, kalau anda malu bertanya, silahkan anda meneruskannya ke Jl. Sangihe Raya, jalan terusan sesudah Jl. Irian jaya ini, akan ada pertigaan jalan yang menuju ke Kampung sebelah, orang biasa menyebutnya dengan kampung bang Somat, Semua warga Sangray maupun tetangga komunitas Sangray pasti sudah paham kalau menyebut kampung bang Somat , jalan yang kalian lalui tadi lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Gang Somat. Kalau anda punya waktu lebih lama, dan mau memperhatikan Gang tersebut, kalian tentu akan merasa heran, dengan mobil yang hilir mudik di sekitar gang tersebut, dulu gang tersebut selain di lalui oleh Truk, sepeda, motor , dan sesekali hewan peliharaan juga terlihat disana, seperti Kambing, Sapi dsbnya, dan yang mungkin menjadi perhatian lain adalah mobil maupun motor aparat keamanan dari satuan Patroli, yang sering kali menggunakan Gang tersebut untuk jalur kegiatannya, posisi jalan tersebut sebenarnya adalah jalan buntu, sehingga jika mobil maupun Truk yang menuju kesana, pasti akan kembali lagi kejalan tersebut untuk kembali ke jalur jalan Utama.

Tak jauh dari lokasi kebun tersebut, memang terdapat lapangan sepakbola, tepatnya dibelakang kebun itu, ukurannya sama dengan standar lapangan sepak bola pada umumnya. Bersebelahan dengan kebun tersebut terdapat ada Jalan segitiga yang banyak ditanami oleh pohon-pohan besar, seperti pohon mangga, pohon Rambutan, jengkol, kelapa, Duren, melinjo dsbnya, sesekali penghuni disekitar kebun tersebut bertemu dan dengan dialek khas betawinya, banyak menyapa orang-orang yang melalui jalan itu, kadang terdengar : “La! loe pade mo kemane iya “ ,atau “ Biasa mpok cari sayur asem “ atau “Tumben , ude lame enggak pernah ketemu “ dan jangan juga aneh jika kalian mendengar bahasa jawa yang sesekali ikut nimbrung di silahturahmi tersebut, karena memang disekitar tersebut banyak orang pendatang yang ngontrak rumah disekitar tsb, yang datang dari kampungnya tuk cari rezeki, abang becak, tukang batu, Ojek dan penjual jajanan pasar atau penjual sayur mayur. Ada juga yang jadi penggarap lahan disekitar area lapangan sepakbola, kerena memang tanah disekitar tsb masih terlihat luas dan masih digarap untuk tanaman jenis bawang, sayur mayur, singkong dan lainnya.

Senyum ramah si penghuni Kebun, seringkali memberi kehangatan tersendiri, mengobrol disela-sela pekerjaannya menjadi bagian dari keramahan dari Mas Agung, lelaki yang bisa dan biasa ditemui disekitar kebun, Dia lebih banyak mengurus kebersihan kebun hingga kepada tanaman yang banyak tumbuh disekitar kebun, ada tanaman hias , tanaman obat, tanaman berbuah maupun mengurus hewan piaraan seperti burung dara, ayam hingga ikan dikolam. Sambil sesekali duduk di Saung yang ada disekitar kebun, yang memang dibangun untuk melepas lelah, mengaso dan kadang mencari ide lain bagi sipemilik kebun. Rekan yang sering berkunjung menemaninya seperti Abang kembang, maupun pemilik Nursery sederhana Mas Slamet. Sesekali kalau musim rambutan tiba, biasanya rame dengan acara memetik buah rambutan, ada yang pake galah, ada yang memang berani naik pohon sendiri, atau ada juga yang asyiknya Cuma makan doang, tapi itu semua enggak menggangu buat Mas Agung, bahkan si empunya Kebun, yang biasa disapa Pak Nunung dan Ibu Nunung sering mengundang warga dihari sabtu dan minggu, maklum keduanya orang kantor yang senin hingga jumat buat kepentingan kantor. Diawal berdirinya kebun ini, beruntung bahwa kebun tersebut menjadi salah satu proyek percontohan yang bernuansa asri, bermanfaat serta pernah dikunjungi oleh Pihak Kelurahan maupun Pemda setempat guna sosialisasi kemasyarakatan, maklum wilayah Sangray adalah satu-satunya wilayah Rt yang berfasilitas area kebun diantara begitu banyak Rt yang berada satu kelurahan dengan komunitas Sangray, sebuah manfaat bagi warga Sangray, karena kebetulan si pemilik kebun adalah mantan ketua Rt. Diwilayah Sangray. Kedepan! mungkin pengembangan area kebon bisa saja digunakan untuk kegiatan yang edukatif lingkungan atau hiburan bagi adik-adik diSangray. Karena pengenalan lingkungan dan berbaurnya adik-adik dengan alam, tanaman, hewan dsbnya secara langsung dapat memberikan wawasan yang berbeda bagi pertumbuhan psikogis. Ini semua tentunya tergantung kepada si empunya Kebun, kepedulian dan keprihatinannya terhadap dunia anak-anak dan kemasyarakatan, dimana anak-anak sekarang bahkan orang tuapun kadang masih banyak yang bersifat individualis. Maklum pengaruh lingkungan diluar sangat terasa, baik dari tontonan TV maupun masmedia lainnya. Belajar mengenal tumbuhan, bercocok tanam, memberi makan ternak, adalah bagian dari kegiatan yang mendidik.

Selain kebun tersebut sangat asri dan adem, kian lengkap pula dengan apa yang dilakukan oleh Ibu-ibu Sangray ini ditiap hari sabtu dan minggu, sesekali mereka kumpul di tengah Saung, sekedar bercengkrama, bahkan ide untuk makan bersama dengan masing2 bawaannya sering kali menjadi kegiatan yang rutin, tukar menukar hasil masakan, hari ini bawa lauk, besok bawa asinan, lusa bawa nasi , sudah secara otomatis menjadi sebuah kerukunan yang besar manfaatnya. Terkadang salah satu warga yang jago masak bisa membagi ilmu dan keahliannya pada kegiatan tersebut. Memasuki kebun ini 100% tidak dipungut biaya alias gratis, si Empunya kebun sangat terbuka kepada siapapun. Yang pasti “Cemilan” dan menu makan siang biasanya mereka sudah ada koordinasi, tidak pernah salah satu yang dibawa rekannya sama, sapaan”Ipeh loe bawa ape hari ini”, yang lain nyahut dengan “bawa asinan”, “ bawa Sambel”, “bawa Ayam goreng “, perangkat-perangkat canggihpun seperti Hp mereka punya, dari CDMA sampe GSM, sekedar memperlancar komunikasi. Inilah sebuah suasana yang menjanjikan sebuah kesadaran bahwa sepanjang kita berbaur dan bersilahturahmi, dengan niat baik, maka kita adalah bagian dari persaudaraan itu sendiri, “menjadi satu, karena kita semua Saudara.”, sambil terdengar sayup-sayup suara kegembiraan dari Saung nun disana, entah itu suara Ibu Endang, ibu ance, Ibu Ipeh, Ibu Pendi, Ibu Nunung, ibu Ari, Ibu Darto, serta Ibu Hanung yang punya Dialek Surobaoyoan, terlarut dalam suasana canda dan tawa yang lepas. Seraya kuayun langkah kakiku untuk ambil air wudhu, sembari mengenang “Suatu siang dikebun milik Pak Nunung”.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

wah dari tulisan-tulisan yang ada disini, saya sudah bisa menebak, pasti yang nulis angkatan opa-opa dan oma-oma he he he