Ada sebuah sisi yang ingin saya ceritakan, yakni ketika akhir-akhir ini terjadi kesibukan yang luar biasa di kampung kami, bukan pesta mercon banting, bukan pula pertunjukan musik apalagi jumpa artis sinetron, tapi sebuah riak pemikiran diantara kami, yakni masa perjalanan yang sudah kami lewati sepanjang 15 tahun kebelakang. Sebuah perjalanan yang mungkin sudah begitu banyak menoreh kegembiraan bagi hampir semua warga, namun juga masih banyak pula catatan-catatan kecil yang sangat menggangu karena belum bisanya kami menyatu pada sebuah kerukunan maupun kepedulian terhadap tempat dimana kami setiap hari bernafas, melakukan ibadah , sampai mimpi dan tidur pulas.
Terlalu sayang seandainya moment ini kami biarkan berlalu, tanpa kami tahu dan tidak menemukan akar permasalahannya, semakin kami tidak berupaya untuk menemukannya, semakin jauh rasanya aroma kepedulian bisa dihadirkan di kampung kami. Entah jalan apa yang pertama kami harus tempuh, sebuah acara sosial kerja bakti wargapun sudah di jalani, jadwal pertemuanpun sudah tercatat berkali-kali diadakan, hingga sebuah penggambaran kisah hidup satu dua wargapun pernah hadir yang seolah ingin menunjukan sebuah realita hidup, yang seolah ingin berkata bahwa hidup itu tidak selamanya punya jalan lurus, sesekali akan ada jalan berkelok, hidup tidak hanya hitam melulu, tapi juga tidak putih sepanjang hayat. Hidup itu sangat dinamis dan harus diyakini bahwa Tuhan punya rencana terhadap semua makluk di dunia ini.
Uuhhh! Kutarik napas panjangku ! kenapa aku harus memikirkan ini semua, kenapa tidak orang lain saja yang memikirkan kampung kami, .toh merekapun tinggal dikampung ini, mereka juga tidur dikampung ini, mereka juga buang hajat ditempat ini, mereka juga bisa undang saudaranya ke kampung ini untuk sebuah urusan , kenapa saya harus cape-cape menggunakan otak ini bila orang lain tidak memberikan hal yang sama untuk kampung ini, lantas kalau saya lelah dan tiba-tiba jatuh sakit, siapa yang peduli dengan ini semua, toh yang pusing akhirnya istri dan anak juga. Ehm ..lama saya termenung, rupanya saya belum jadi manusia baik, belum punya kecendrungan dimana hati nurani harusnya saya tempatkan didepan.
Terlalu sayang seandainya moment ini kami biarkan berlalu, tanpa kami tahu dan tidak menemukan akar permasalahannya, semakin kami tidak berupaya untuk menemukannya, semakin jauh rasanya aroma kepedulian bisa dihadirkan di kampung kami. Entah jalan apa yang pertama kami harus tempuh, sebuah acara sosial kerja bakti wargapun sudah di jalani, jadwal pertemuanpun sudah tercatat berkali-kali diadakan, hingga sebuah penggambaran kisah hidup satu dua wargapun pernah hadir yang seolah ingin menunjukan sebuah realita hidup, yang seolah ingin berkata bahwa hidup itu tidak selamanya punya jalan lurus, sesekali akan ada jalan berkelok, hidup tidak hanya hitam melulu, tapi juga tidak putih sepanjang hayat. Hidup itu sangat dinamis dan harus diyakini bahwa Tuhan punya rencana terhadap semua makluk di dunia ini.
Uuhhh! Kutarik napas panjangku ! kenapa aku harus memikirkan ini semua, kenapa tidak orang lain saja yang memikirkan kampung kami, .toh merekapun tinggal dikampung ini, mereka juga tidur dikampung ini, mereka juga buang hajat ditempat ini, mereka juga bisa undang saudaranya ke kampung ini untuk sebuah urusan , kenapa saya harus cape-cape menggunakan otak ini bila orang lain tidak memberikan hal yang sama untuk kampung ini, lantas kalau saya lelah dan tiba-tiba jatuh sakit, siapa yang peduli dengan ini semua, toh yang pusing akhirnya istri dan anak juga. Ehm ..lama saya termenung, rupanya saya belum jadi manusia baik, belum punya kecendrungan dimana hati nurani harusnya saya tempatkan didepan.
Yup, tiba-tiba saja sejumlah orang kaget ketika ada berita bahwa ketua Rt kami tidak lagi ingin menjadi ketua, Apa yang mereka kagetkan ? pasalnya karena yang akan terjadi adalah diantara kami tentunya akan saling tunjuk-menunjuk, saling andal-mengandalkan, atau paling tidak akan ada suasana “perdebatan kecil “ hingga sampai ditemukannya Figure yang dapat meneruskan pekerjaan Beliau. Beh ! enaknya mereka ( saya ambil bahasanya CHangcuters ) seorang warga yang peduli berkomentar, selama ini mereka kemana saja, mana peduli mereka saat Rapat RT kami undang, iuranpun tak mereka pedulikan, maka tak heran kalau dalam acara yang akan digelar ini ( Pilkaret = Pemilihan ketua Erte 2008 ) , diantara kami atau masing-masing pribadi membangun rekayasanya sendiri agar tidak mau dijadikan Ketua Rt. Dan yang lebih gawat lagi, saat kami sebagai panitia hadir dan meminta kesediannya untuk duduk sebagai pengurus Rt, mereka lantas mengira dan mereka-reka bahwa panitia sudah membuat rekayasa yang intinya menggiring orang lain agar dijadikan ketua RT padahal kami hanya ingin membagi dan membawa amanat warga bahwa Figure Bapak sangat punya potensi untuk bisa memberikan dan membawa kampung ini kepada suasana yang kondusif ( Kalau bahasa iklannya PAS Susunya ).
Untuk itu, hari ini saya merasa bangga menyaksikan pertemuan rapat Tim panitia Pilkaret kampung kami di rumah saya, namun demikian, saya tetap harus punya “ruang tak terduga “ dan sepertinya semua wargapun masih punya hati was-was karena cara pemlihan yang akan dilakukan adalah dengan cara Angket. Ini satu-satunya cara yang bisa fair, menurut sebagian warga, sebagian lain mengatakan ini tidak Fair.
Bukan apa-apa, kita ini warga yang kadang konsisten, kadang berubah-ubah, ibarat Iman, iman itu akan bagus pada saat kita baru mengaji, tetapi pada saat kita dugem iman pun tampak hitamnya, misalnya kalau kita tidak saling setuju tentang sesuatu hal, maka jelas akan nampak diwajah dan sikap kita. Beda pendapat dianggap tidak kompak, kalau tidak kompak ujung-ujungnya tidak lagi kumpul-kumpul, saling menjauh dan susah tersenyum. Inilah tantangannya sebagai sebuah tim panitia. Saya berdoa mudah-mudahan tim panitia yang lagi bekerja ini mampu menemukan seorang Figure yang membawa kampung ini menjadi dewasa dan saling membangun, agamis dan kondusif. Selamat bekerja buat Papanya Kanya, Ayahnya Bayu, Ayah Dery, Ayahnya BM, salam juga buat Bapaknya Nanda, Om Triantoro, Uda Taufik, Papa Odi, Pak To, juga Ibunya Dito, serta yang terakhir buat Pak Hanung ( tapi bukan Hanung Bramantyo. Si Sutradara AAC-ayat-ayat cinta itu ) ini Papanya sikembar ( ketua komunitas Sangray ).#


